Olehsebab itu, lanjutnya, membaca Kitab Suci Catur Weda harus didampingi seorang guru. Dalam Bayu Purana I.201 disebutkan 'Ithiasa puranabhyam vedam samupabrmhayet, bibhettyalpasrutad Vedo mamayam praharisyati'. "Maksudnya, hendaknya Weda dijelaskan melalui Ithiasa dan Purana. Weda merasa takut kalau orang bodoh membacanya. DownloadKitab Sarasamuscaya apk 1.1 for Android. Sarasamuscaya Offline DalamKitab Sarasamuscaya (6) dinyatakan : Resi, Bhagawan, Empu dan lain sebagainya, adalah merubah status yang bersangkutan dalam ikatan disiplin sebagaimana yang tertuang dalam Catur Bandana Dharma (empat ikatan disiplin kehidupan kerokhanian) yang meliputi : Tim Penyusun. 1978. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka Téléchargezl'APK 1.1 de Kitab Sarasamuscaya pour Android. Sarasamuscaya Hors ligne. FR English Português Español Pусский العربية‎ 中文(简体) 中文(繁體) हिन्दी Indonesia Italiano Nederlands 日本語 Polski Deutsch Tiếng Việt Français Türkiye 한국어 Kesimpulan Tri Hita Karana adalah Tiga hubungan yang menyebabkan terjadinya kebahagiaan. Unsur-unsur dari Tri Hita Karana yaitu antara lain: 1). Parhyangan, yaitu hubungan antara manusia dengan Tuhan. 2). Pawongan, yaitu hubungan antara manusia dengan manusia. 3). Palemahan, yaitu hubungan antara manusia dengan alam. Karenamerupakan karya seorang bhagawan 'guru suci', maka kitab Sarasamuscaya bukanlah karya biasa, tetapi karya yang mijil saking buddhi sang kawi kajanaloka 'lahir dari batin seorang pengarang yang sudah terkenal kesuciannya' (GSS, I, Sinom:6). 10Penyusun kitab Sarasamuscaya adalah Bhagawan a. Wararuci c. Wiswamitra b.Bharadwaja d. Waisampayana 11. Sujud bhakti kchadapan Sanghyang Widhi dengan tulus iklas disebut .. a.Raja Marga c. Karma Marga b.Bhakti Marga d.Jnana 12.Jalan bersatu dengan Sanghyang Widhi dengan cara menuntut dan mengabdikan ilmu pengetahuan disebut a.Bhakti marga TagArchives: 2 ulama hadis penyusun kitab hadits shahih. Imam al-Maturidi; Perancang Konstruksi Akidah Aswaja. Redaksi 14 November 2020 Tokoh & Referensi 830 Views. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Muhammad bin Mahmud, yang makruf dengan sebutan Abu Mansur al-Maturidi. Dalam manuskrip kitab at-Tauhîd tertulis bahwa Abu Manshur merupakan Dalamkitab suci Sarasamuscaya sloka 2, dinyatakan bahwa "Diantara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan sebagai manusia sajalah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk, leburlah ke dalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu, demikianlah gunanya (pahalanya) menjadi manusia". Maha Rsi Vasistha adalah seorang Startseite» Apps » Bücher & Nachschlagewerke » Kitab Sarasamuscaya. Kitab Sarasamuscaya Offline. 1.1 for Android | 0 Reviews | 0 Empfehlungen. Arcus Studio Download APK (4.4 MB) Versionen. Benutz die APKPure-App, um Kitab Sarasamuscaya zu aktualisieren, schnell, kostenlos und deine Internetdaten sichern. mu38x. Mengendalikan Sad Ripu dengan Sarasamuscaya Pada kalangan Hindu dari dulu sampai saat ini, maka pada kehidupannya kita dihadapkan pada musuh besar yang tak akan lekang oleh jaman. Musuh besar yang selalu mengintip dan menerjang di saat kita lengah akan menjalani kehidupan ini. Musuh yang selalu ada dalam setiap jejak kita melangkah dalam kehidupan ini. Musuh itu adalah Sad Ripu, yaitu enam musuh yang dapat menelanjangi kita untuk jatuh ke lembah kekotoran dan neraka. Terbagi menjadi enam bagian yaitu antara lain Kama, Lobha, Krodha, Mada, Moha, Matsarya. Keenam penggoda yang senantiasa jadi bagian sisi hitam kegelapan manusia dari dulu hingga sekarang. Mengendalikan sifat-sifat dari Sad Ripu adalah hal mutlak yang patut kita lakukan. Banyaklah kita diberikan pencerahan baik dari orang tua, guru, penglingsir, lingkungan yang baik, serta pula dari guru kerohanian agar terhindar dari sad ripu ini. Dan secara simbolis bahwa ada upacara metatah atau potong gigi yang dapat pula sebagai upacara yang berkaitan dengan pengurangan sad ripu tersebut. Namun di samping itu pula, jangan pernah lupakan weda sebagai kitab suci yang sungguh-sungguh nyata mengandung bahasan-bahasan suci yang banyak pula berisikan suruhan atau himbauan dalam hal pengendalian sad ripu di atas. Salah satunya adalah kitab Sarasamuscaya. Sarasamuscaya adalah Sari pati dari Asta Dasa Parwa yang disarikan oleh Bhagawan Wararuci. Asta Dasa Parwa tersebut adalah delapan belas Parwa yang membangun kitab Mahabaratha karya Bhagawan Byasa. Sarasamuscaya adalah weda smreti, dan berisikan tuntunan-tuntunan bagi umat Hindu agar berperilaku dan bersikap baik berdasarkan dharma serta menghindari adharma sebagai musuh mereka. Pengendalian Sad Ripu sebagai musuh utama umat, maka alangkah baiknya jika kita bisa menelaah bagaimana sad ripu bisa dikendalikan dengan membaca, menelaah serta mempraktekkan apa-apa yang terdapat pada Sarasamuscaya di dalam kehidupan sehari-hari umat Hindu sekalian. Di sini akan dibicarakan bagaimana sloka-sloka Sarasmuscaya sangat pas digunakan sebagai pedoman dalam menghindari enam musuh umat tersebut. A. Kama Kama disebut juga hawa nafsu. Hawa nafsu yang dapat menjerumuskan manusia ke arah yang buruk jika dilakukan secara berlebihan. Sekehendaknyalah bila umat bisa mengekang hawa nafsu mereka menuju kebaikan dari dharma itu sendiri. Seperti disebutkan dalam Sarasamuscaya 46 Mritye janmanor’thaya jayante maranaya ca, na dharmatam na karmatham trnaniva prthagjanah. Apan purih nikang prthagjana, tan dharma, tan kama, kasiddha denya, nghing matya donyan ahurip, doning patiya, nghing hanma muwah, ika tang prthagjana mangkana kramanya, tan hana patinya ide nika, taha pih, tan hana pahinya lawan dukut, ring kapwa pati doning janmanya, janma doning patinya. Sebab peri keadaan orang kebanyakan orang yang belum mencapai tingkat filsafat ia tidak mengerti akan hakikat dharma, dan juga tidak tahu bagaimana cara mengendalikan nafsu; yang dapat dicapainya hanyalah untuk mati tujuan mereka hidup, maksud matinya adalah hanya untuk lahir lagi; orang kebanyakan demikian keadaannyaitu, bukan mati yang dipikirkannya, cobalah pikirkan, kehidupan serupa itu tiada bedanya dengan rumput yang mati untuk tumbuh kembali, dan tumbuhnya hanya untuk menunggu matinya. Jadi orang-orang yang belum bisa mengendalikan nafsunya, hidupnya menjadi tidak berguna, hanyalah untuk menunggu mati saja. Seperti rumput yang tumbuh hanya hidup untuk menuju kematiannya sendiri. Agar paling tidak menjadi manusia yang memiliki kegunaan, salah satu cara adalah dengan mengendalikan nafsu tersebut. Bukan sebagai manusia yang hanya menunggu mati saja. Menahan nafsu itu pula disebutkan sebagai pengekangan pikiran. Karena nafsu berasal dari pikiran itu sendiri. Seperti disebutkan dalam Sarasamuscaya 80 Mano hi mulam sarvesamindrayanam pravartate, subhasubhasvavashtasu karyam tat suvyavasthitam. Apan ikang manah ngaranya, ya ika witning indriya, maprawrtti ta ya ring subhasubhakarma, matangnyan ikang manah juga prihen kahrtanya sakareng. Sebab yang disebut pikiran itu, adalah sumbernya nafsu, ialah yang menggerakkan perbuatan yang baik atau pun buruk; oleh karena itu, pikirkanlah yang segera patut diusahakan pengekangannya/ pengendaliannya. Jadi pikiran itu digerakkan oleh nafsu, maka jika dalam berpikiran disediakanlah ruang untuk bagaimana mengekangnya. Itulah hakikat pengekangan nafsu tersebut yang menggerakkan pikiran itu sendiri. Lain hal dengan kesabaran, bahwa kesabaran adalah bagaimana orang bisa mengendalikan hawa nafsunya. Yang menjadi kekayaan utama menuju kemuliaan. Seperti disebutkan dalam Sarasamuscaya 93 Natah srimattara kincidanyat pathyatara tatha prabhavisnorytha tata ksama sarvatra sarpvada. Sangksepanya, ksama ikang paramarthaning pinakadrbya, pinaka mas manic nika sang wenang lumage saktining indriya, noralumewihana halepnya; anghing ya wekasning pathya, pathya ngaraning pathadnapetah, tan panasar sangke marga yukti, manggeh sadhana asing parana, tan apilih ring kala. Kesimpulannya kesabaran hati itulah yang merupakan kekayaan yang utama; itu adalah sebagai emas dan permata orang yang mampu memerangi kekuatan hawa nafsunya, yang tidak ada melebihi kemuliannya. Akan tetapi ia juga pada puncaknya pathya; pathya disebut patadanapeta, yang tidak sasar, sesat dari jalan yang benar, melainkan tetap selalu merupakan pedoman untuk mencapai setiao apa yang akan ditempuh sepanjang waktu. Jadi mereka adalah orang yang tidak akan tersesat pada suatu jalan kebenaran, bagi mereka-mereka yang mampu mengendalikan nafsunya. Mereka adalah manusia mulia yang memiliki harta berharga yaitu kesabaran hati. B. Lobha Lobha artinya kerakusan. Artinya suatu sifat yang selalu menginginkan lebih melebihi kapasitas yang dimilikinya. Untuk mendapatkan kenikmatan dunia dengan merasa selalu kekurangan, walaupun ia sudah mendapatnya secara cukup. Seperti misal lobha dalam mendapatkan harta seperti disebutkan dalam Sarasamuscaya 267. Jatasya hi kule mukhye paravittesu grhdyatah lobhasca prajnamahanti prajna hanta hasa sriyam. Yadyapin kulaja ikang wwang, yan engine ring pradryabaharana, hilang kaprajnan ika dening kalobhanya, hilangning kaprajnanya, ya ta humilangken srinya, halep nya salwirning wibhawanya Biar pun orang berketurunan mulia, jika berkeinginan merampas kepunyaan orang lain; maka hilanglah kearifannya karena kelobhaanya; apabila telah hilang kearifannya itu itulah yang menghilangkan kemuliaannya dan seluruh kemegahannya. Ini disebutkan orang yang terlalu rakus dan loba akan kepemilikan orang lain, maka ia akan kehilangan kemuliannya dimulai dari kehilangan kearifannya, karena ia sudah berlaku buruk. Jadi rugi akan segala yang telah ia punya akibat kelobaannya itu. Apalagi jika rakus sampai menyerobot kekayaan orang lain. Kemiskinan dan hasil buruk di kehidupan yang akan datang akan jadi balasannya. Seperti tercantum dalam Sarasamuscaya 360 Musnam daridratyabhihanyate ghnan pujyunamasampujya bhavatyapujyah, yat karmavijam vapate manusyah tasyanurupani phalani bhumkte. Ikang akelit ring paradrwya nguni ring purwajanma, daridra janma nika ring dlaha, ikang amati nguni pinatyan ika dlaha, sangksepanya, salwining karma wija inipuk nguni, ya ika kabhukti phalanya dlaha. Yang menyerobot kepunyaan orang lain waktu hidupnya dulu, dilahirkan menjadi orang miskin di kemudian hari ; yang membunuh pada waktu hidupnya dulu akan dibunuh dalam hidupnya kemudian; singkatnya, semua benih perbuatan yang ditabur dan dibiakkan dulu, buahnya itulah yang dinikmati kemudian. Hal tersebut adalah hukum kamarphala. Maka dihindarilah sebaiknya loba atau rakus akan hak milik orang lain yang mengakibatkan buah hasil perbuatan menjadi buruk di kemudian hari. Loba dalam sarasamuscaya disebutkan juga sebagai penyebab dari kebodohan. Kebodohan yang juga akan membawa manusia ke jurang kesengsaraan tanpa batas dan tiada bisa mengartikan dan membedakan antara baik dan buruk itu sendiri. Slokanya adalah Sarasamuscaya 400 Ajnaphrabhavarin hidam yadduhkhamupalabhyate lobhadeva tadajnanamajnanallobha eva ca Apan ikang sukhadukha kabhukti, punggung sankanika, ikang punggung, kalobhan sangkanika, ikang kalobhan, punggung sangkanika, matangyan punggung sangkaning sangsara Sebab suka duka yang dialami, pangkalnya adalah kebodohan; kebodohan yang ditimbulkan oleh loba, sedang loka keinginan hati itu kebodohan asalnya; oleh karena itu kebodohanlah asal mula kesengsaraan itu. Jadi kesengsaraan adalah berasal dari kebodohan yang pangkalnya ditimbulkan dari sifat loba itu sendiri. Sehingga kesengsaraan akan muncul dengan sendirinya bagi manusia yang tanpa bisa mengurangi sifat loba itu sendiri. C. Krodha Krodha berarti sifat kemarahan. Jika berlebihan akan membawa manusia ke jurang kehancuran. Pengendalian sifat-sifat marah tentu saja akan lebih menyejukkan hati manusia dalam menjalani berbagai jalan kehidupan. Musuh akan bisa dikurangi dengan tidak melanjutkan amarah secara membabi buta, seperti terlihat pada sloka berikut Sarasamuscaya 96 Na catravah ksayam yanti yavajjivamapi ghnatah, krodham niyantum yo veda tasya dvesta na vidyate Katuhwan, apan yadyapi wenanga ikang wwang ri musuhnya, ta kawadhan patyana satrunya, asing kakrodhanya, sadawani huripnya tah yang tutakena gelengnya tuwi, yaya juga tan hentya ni musuh nika, kuneng prasiddha ning tan pamusuh, sang wenang humrt krodhnira juga. Sebenarnya, meskipun orang itu selalu jaya terhadap seterunya, serta tak terbilang jumlah musuh yang dibunuhnya, asal yang dibencinya musnah, maka selama hidupnya pun, jika ia hanya menuruti kemarahan hatinya belaka, tentu saja tidak akan habis-habisnya musuhnya itu. Akan tetapi yang benar-benar tidak mempunyai musuh, adalah orang yang berhasil mengekang kemarahan hatinya. Begitulah bagaimana jika manusia tidak mampu mengekang amarahnya, maka musuh-musuhnya tidak akan pernah habis. Tidak akan pernah ada kedamaian dalam dirinya. Maka kedamaian akan hadir pada mereka yang mampu mengekang nafsu amarahnya. Seperti pula hal tersebut tercantum dalam sloka berikut Sarasamuscaya 98 Atmopamastu bhutesu yo bhavediha purusah. Tyaktadando jitakrodhah sa pretya sukhamdhate. Apayapan ikang wwang upasama, tan pahi lawanawaknya ta pwa ikang sarwabhawa lingya, arah harimbawa, tatan pangdanda, tan katanam krodha, ya ika wyaktining sarwasukha, apan mangken temung sukha, ring paraloka sukha tah tinemunya. Karena orang yang berhati sabar, berpendapat sekalian mahluk hidup itu tiada beda dengan dirinya sendiri; “ah, janganlah mementingkan diri sendiri, jangan memukul jangan marah orang yang dapat melaksanakan itu, itulah merupakan sumber atau asal mula kesenangan dan kepuasan hati, sebab sekarang ia mendapatkan kebahagiaan pun di dunia lain diperolehnya pula. Seperti itulah manusia jika dengan sabar mampu menahan amarahnya. Ia bahagia baik di mana pun juga, apakah itu di dunia ini atau pun nanti di dunia yang lain. Yaitu pada saat setelah ia mati nantinya. Manusia itu dikatakan utama, jika ia mampu melaksanakan pengekangan terhadap amarahnya. Manusia utama yang melebihi manusia lainnya walaupun ia tidak lebih kaya dari manusia itu. Seperti juga terlihat pada Sarasamuscaya 101 Akrodhanah krodhanebhyo visistastatha titiksuratitiksorvistatah, amanusebhyo manusasca pradhana vidvamstathaivavidusah pradhanah Sangksepanya, lwih ikang wwang mangawasakena krodha; sangke kinawasakening krodha, monpakalwih juga anugrahana wiryadi tuwi, mangkana ikang kelan, lwih ika sangkeng tan kelan, yadyapin mangkana kalwihnya, mangkana manusajanma, lwih jugeka sangkeng tan manusa, mon lwih ring bhogopabhogadi, mangkana sang pandita, lwih sira sangkeng tapandita, yadyapin samrddhya ring dhanadhanyadi Kesimpulannya, sangat lebih utama orang yang berhasil menguasai kemarahan daripada orang yang dikuasai kemarahan, meskipun orang kedua itu lebih kaya, lebih berkuasa dan lain-lain orang yang tahan sabar adalah ia jauh lebih baik dari pada yang tidak tahan sabar, walaupun bagaimana besar kekuasaannya, demikian pula penjelmaan menjadi manusia adalah juga lebih utama dari pada penjelmaan sebagai mahluk lain dari manusia, kendati berkelebihan pada bidang pelbagai kenikmatan dan lain-lainnya; demikian pula sang pandita, lebih utama dari orang yang bukan pandita, biarpun berlimpah-limpah harta kekayaannya, dan lain-lainnya. Jadi diibaratkan bahwa mereka yang mampu menahan amarahnya adalah seperti manusia jika dibandingkan mereka yang tidak, yang diibaratkan seperti bukan manusia. Dan yang mengekang amarahnya diibarakan seperti pandita jika dibandingkan bagi mereka yang bukan, walaupun harta berlimpah. Karena pandita adalah mulia sebenarnya. D. Moha Moha berarti pula bingung. Bingung yang tiada mampu membedakan mana arti benar dan salah. Seperti orang bodoh yang tidak tahu mana jalan yang mengandung kebenaran. Tujuan utama agama akan menghantar pada yang baik yaitu surga. Orang bingung akan mengira kebenaran itu sebagai kebenaran yang lain. Seperti pada sloka berikut Sarasamuscaya 35 Ekam yadi bhavecchastram sreyo nissamcayam bhavet’ bahutvadiha sastranam guham creyah pravesitam. Yan tunggala keta Sang Hyang Agama, tan sangcaya ngwang irikang sinanggah hayu, swargapawargaphala, akweh mara sira, kapwa dudu paksanira sowing-sowang-hetuning wulangun, tan anggah ring anggehakena, hana ring guhagahwara, sira sang hyang hayu. Sesungguhnya hanya satu tujuan agama, mestinya tidak sangsi orang yang disebut kebenaran, yang dapat membawa ke surga atau moksa, semua menuju kepadanya, akan tetapi masing-masing berbeda caranya, disebabkan oleh kebingungan, sehingga yang tidak benar dibenarkan; ada yang menyangka,bahwa di dalam gua yang besarolah tempatnya kebenaran itu. Jadi orang yang kebingungan akan menyangka bahwa kebenaran itu dianggap bukan kebenaran. Seperti juga ada yang menganggap kebenaran terdapat di dalam gua. Dengan mengetahui tujuan agama, maka kebingungan seperti itu tidak terjadi lagi. Pikiran yang sangsi serta bingung, akan membawa kemeralatan di dunia. Hal itu hendaknya dikendalikan. Pengendalian pikiran sebagai hal yang utama agar tidak sangsi untuk mencapai kebahagiaan. Hal tersebut dapat dilihat pada Sarasamuscaya 81 Duragam bahudhagami prathanasamssayatmakam manah suniyatama yasya sa sukhi pretya veha ca. Nihan ta kramaningkang manah, bhranta lungha swabhawanya, akweh inangenangenya, dadi prathana, dadi sangsaya, pinakawaknya, hana pwa wwang’ikang wenang humrt manah, sira tika manggeh amanggih sukha, mangke ring paraloka waneh. Keadaan pikiran itu demikianlah; tidak berketentuan jalannya, banyak yang dicita-citakan, terkadang berkeinginan, terkadang penuh kesangsian; demikianlah kenyataannya; jika ada orang yang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu beroleh kebahagiaan, baik sekarang maupun di dunia yang lain. Jadi kebingungan dan keinginan berlebih akan hilang. Yaitu dengan mengendalikan pikiran sedemikian rupa sehingga nantinya akan tercapai kebahagiaan di dunia mana pun. Seperti juga dijelaskan bahwa manusia yang tidak goyah hatinya akan memperoleh amerta sebagai kemuliaan. Hal tersebut tercantum dalam sloka berikut Sarasamuscaya 128 Amrtam caiva mrtyucca dvayam dehe prastititam, mrtyurapadyate mohat satyenapaddyate’mrtam Tan madoh marikang wisa, mwang amrta, ngke ring carira kahananya, kramanya, yan apunggung ikang wwang jenek ring adharma, wisa katemu denya, yapwan ateguh ring kastyan, mapageh ring dharma, katemung amrta. Tak berjauhan bisa racun itu dengan amrta; di sinilah, di badan sendirilah tempatnya; keterangannya jika orang itu bodoh atau senang kepada adharma, bisa atau racun didapat olehnya; sebaliknya kokoh berpegang pada kebenaran, tidak goyah hatinya bersandar pada dharma, maka amrtalah diperolehnya. Jadi dengan tidak bingung dan selalu berpegang kepada ajaran dharma, maka manusia akan mendapatkan amerta yaitu kebahagaiaan dan kemuliaan di kehidupan ini. E. Mada Mada berarti suatu kemabukan. Kemabukan yang membawa manusia pada kebingungan. Dan akhirnya dihadapkan pada perbuatan buruk yang akan mengarahkan ia pada neraka serta kemelaratan hidup. Hal ini terkadang dapat ditimbulkan oleh salah pergaulan, bergaul dengan orang-orang yang melakukan perbuatan papa. Seperti disebutkan dalam sloka ini Sarasamuscaya 322 Brahmaghna ca sarape ca core bhagnavrate sate, niskrtivihita sabdih jrtahgne nasty niskrtih. Brahmagnha ngaraning mamati brahmana, humilangaken sang hyang brahma mantra kunang, tan yatna ri sira, surapa ngaraning manginum madya, an pakabrata tan panginum madya, cora kunang, bhgnabrata ngaraning manglebur brata, atyanta gongning ngaraning manglebur brata, atyanta gongning papanika kabeh, tathapin mangkana hana pamrayascitta irika, kunang papaning krtaghna, tan patambanika, tan kawenang pinrayacitta. Brhmaghna artinya membunuh brahmana dan menghilangkan brahma mantra, tidakmengindahkan Beliau, surapa artinya meminum minuman keras; orang yang menjalankan brata tidak dibenarkan meminum minuman keras; tidak boleh mencuri; bhgnabrata namanya jika melebur membatalkanbrata; keliwat besar dosanya; namun dmikian masih ada penebusnya; akan tetapi dosa krtaghna tak tahu berterima kasih tak ada obatnya, tak ditebus. Jadi dosa besar jika manusia membatalkan bratanya dan meneguk minuman keras. Brata itu menghantarkan manusia sebenarnya kepada surga yang akan diraihnya nanti. Seperti juga yang terdapat pada sloka ini Sarasamuscaya 325 Samklistakarmanamatipramadam bhuyo nrtam cadr dabhaktikam ca, vicitaragam bahumayinam na ca naitan niseveta naradhaman sat. Nihan lwirning tan sangsargan, wwang mangulahaken pisakit, parapida duracara, wwang gong pramada, wwang mithyawada, wwang tan apangeh kabhatinya, wwang gong raga, wwang sakta ring madya, nahan tang nem kanistanin wwang, tan yogya siwin. Inilah misalnya orang yang tidak patut dijadikan kawan bergaul, orang yang mengusahakan penyakit dan kesedihan kepada orang lain, serta buruk laku, orang yang sangat alpa, orang yang kata-katanya bohong dusta, orang yang terikat hatinya kepada minuman keras, keenam orang yang sangat keji itulah, yang patut dihindarkan. Selain mabuk minum-minuman keras, disebutkan juga tidak baik menjadi orang yang mabuk kebangsawanan, mabuk kerupawanan, dan mabuk kepintaran. Sesungguhnya itu menimbulkan ketidaktenangan hati di dunia. Seperti pada sloka berikut Sarasamuscaya 337 Vidyamado dhanamadasttrtiyo’ bhijanairmadah, mada hyete valiptanameta eva satam damah. Nihan sangskepaning mangdadyaken mada ring durjana widya, dhana, abhijana, widya ngaran sang hyang aji, widyamada ngaraning wero kapuhara denira, dhana ngaraning masmanik, salwirning wibhawa, dhanamada ngaranikang mada kawangun denya, abhijana ngaraning kawwangan abhijanamada ngaraningkang wero kapuhara denya, nahan tawakning mangddyaken mada ring durjana, kunang ri sangn sajjana, mangddyaken kopasaman ika. Inilah secara singkat hal-hal yang menimbulkan kesombongan pada si durjana; widya, dhana, abhijana, widya artinya ilmu pengetahuan, widyamada artinya rasa bangga yang diakibatka ilmu pengetahuan; dhana adalah kekayaan emas dan permata, segala rupa kekayaan; dhanamada disebut kesombongan yang ditimbulan oleh kekayaan itu; abhijana artinya keturunan yang mulia; abhijanama artinya mabuk akan bangsawan; itulah bentuk-bentuk yang menimbulkan rasa angkuh pada si durjana; sebaliknya sang sajan bentuk-bentuk itu menyebabkan timbulnya ketenangan hati. F. Matsarya Matsarya disebut juga iri hati. Manusia yang memiliki sifat seperti ini, dalam Sarasamuscaya adalah manusia yang tidak mengalami kebahagiaan abadi dan menimbulkan hanya kesengsaraan dalam kehidupannya. Seperti disebutkan dalam Sarasamuscaya 88 Abhidhyaluh parasvesu neha namutra nandati, tasmadabhidhya santyajya sarvadabipsata sukham. Hana ta mangke kramanya, engin ring drbyaning len, madengki ing suhkanya, ikang wwang mangkana, yatika pisaningun, temwang sukha mangke, ring paraloka tuwi, matangnyan aryakena ika, sang mahyun langgeng anemwang sukha. Adalah orang yang tabiatnya menginginkan atau menghendaki milik orang lain, menaruh dengki iri hati akan kebahagiannya; orang yang demikian tabiatnya, sekali-kali tidak akan mendapat kebahagiaan di dunia ini, ataupun di dunia yang lain; oleh karena itu patut ditinggalkan tabiat itu oleh orang yang ingin mengalami kebahagiaan abadi. Jadi iri hati hanya menghasilkan ketidaktenangan dalam hidup. Yang harus manusia lakukan agar terhindar dari iri hati dapat dilihat pada sloka berikut. Sarasamuscaya 89 Sada samahitam citta naro bhutesu dharayet, nabhidhyayenne sphrayennabaddham cintayedasat Nyanyeki kadeyakenaning wwang ikag buddhi masih ring sawaprani, yatika pagehankena, haywa ta humayamakam ikang wastu tan hana, wastu tan yukti kuneng, haywa ika inangenangen. Nah inilah yang hendaknya orang perbuat, perasaan hati cinta kasih kepada segala mahluk hendaklah tetap dikuatkan, janganlah menaruh dengki iri hati, janganlah menginginkan dan jangan merindukan sesuatu yang tidak ada, ataupun sesuatu yang tidak halal; janganlah hal itu dipikir-pikirkan. Kesengsaraan juga menjadi akibat yang ditimbulkan iri hati kepada sesama. Hal tersebut ada pada sloka berikut Sarasamuscaya 91 Yasyerya paravittesu rupe virye kulavaye, sukhasaubhagyasatkare tasya vyadhiranatagah Ikang wwang irsya ri padanya janma tumon masnya, rupanya, wiryanya, kasujanmanya, sukhanya kasubhaganya, kalemanya, ya ta amuhara irsya iriya, ikang wwang mangkana kramanya, yatika prasiddhaning sanngsara ngaranya, karaket laranya tan patamban. Orang yang irihati kepada sesanya manusia, jika melihat emasnya, wajahnya, kelahirannya yang utama, kesenangannya, keberuntungannya dan keadaannya yang terpuji; jika hal itu menyebabkan timbulnya iri hati pada dirinya; maka orang demikian keadaannya itulah sungguh-sungguh sengsara namanya, terlekati kedukaan hatinya yang tak terobati Jadi jika ingin di dunia berbahagia, maka manusia hendaknyalah menghindari sifat iri hati ini. Karena iri hati hanya akan menimbulkan kesengsaraan semata bagi siapa-siapa yang terjangkiti olehnya. Daftar pustaka Kadjeng, I Nyoman dkk. 1997. Sarasamuscaya dengan teks Bahasa Sansekerta dan Jawa Kuna. Paramita Surabaya. BAB Latar BelakangSarasamusccaya adalah kitab Smerti dengan 511 sloka ayat yang memuat sejumlah ajaran tentang moral dan etika. Disusun oleh Bhagawan Wararuci, kira-kira pada abad ke 9-10. Kitab ini ditulis dengan dua bahasa yaitu Sanskerta dan bahasa Jawa Kuno Kawi. Banyak yang menyebut Bhagawan Wararuci lahir di Nusantara karena kitab ini ditemukan dengan terjemahan dalam bahasa Jawa Kuno dari aslinya, Sansekerta. Kedua bahasa itu dipersandingkan. Namun, tidak ada kepastian bahwa beliau lahir di Nusantara, bisa saja Sarasamuccaya itu datang dari India dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa Kuno oleh seseorang yang tak mau disebutkan namanya. Hal-hal yang anonim itu jamak dalam susastra Hindu di era kerajaan-kerajaan di Sarasamuccaya ini dimaksudkan oleh Wararuci sebagai intisari dari Astadasaparwa Mahabharata, gubahan Rsi Wiyasa. Arti Sarasamuccaya yaitu Sara artinya intisari, sedangkan samuccaya artinya himpunan. Inilah himpunan dari instisari ajaran etika yang ada dalam kita mempergunakan teori Gadamer menginterpretasikan sloka-sloka ini, maka pertama tama kita pergunakan teks Sarasamuccaya dalam bahasa Jawa Kuno yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Nyoman Kadjeng dkk. Alasannya adalah oleh karena teks Jawa Kuno tidak ditemukan siapa penterjemahnya dari bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Jawa Kuno. Oleh karena Nyoman Kadjeng menterjemahkannya dari bahasa Jawa Kuno ke dalam bahasa Indonesia, maka mulai dari sinilah kita akan melakukan upaya-upaya pemahaman terhadap kitab masalah teori interpretasi Gadamer, kita mempertanyakan maksud apa yang terkandung dari penuturnya Waisampayana, penulisnya Wararuci, penterjemahnya ke dalam bahasa Jawa Kuno Anonim, dan penterjemahnya ke dalam bahasa Indonesia, sesuai dengan perkembangan horisonnya masing-masing, dalam rentang waktu dan tempat yang berbeda-beda. Waisampayana adalah penutur nilai-nilai, sari-sari dari Mahabharata, ditujukan kepada pendengarnya Janamejaya, cucu Arjuna. Sebagai penerus dinasti Pandawa yang sangat diharapkan dapat membawa kerajaan dengan seluruh rakyatnya, laki perempuan tua muda menikmati kesejahteraan dan kebahagiaan lahir dan batin dan mendapatkan kesempatan dan peluang secara adil, agar tidak terulang kembali prahara Bharata Yuda seperti leluhurnya dulu. Inilah merupakan horison berpikir dari penutur dan penulis Bhagavan Wararuci serta teks Sarasamuccaya di masa Rumusan Masalah1. Bagaimanakah pemahaman umat Hindu tentang Kitab Sarasamuccaya?2. Bagaimanakah penggunaan Bahasa Indonesia dalam Kitab Sarasamuccaya? Tujuan3. Mahasiswa dapat memahami Kitab Sarasamuccaya dalam ajaran Hindu4. Mahasiswa dapat mengetahui penggunaan Bahasa Indonesia dalam Kitab Sarasamuccaya? Manfaat1. Bagi penulis menambah wawasan baru dan memahami lebih mendalam tentang Kitab Sarasamuccaya dalam ajaran Hindu2. Bagi pembaca dapat memahami dan mengingat kembali ajaran dari Kitab SarasamuccayaBAB Pemahaman Kitab SarasamuccayaKitab Sarasamuscaya adalah tuntunan bagi mereka yang sudah melewati Grhasta Asrama, atau tepatnya sudah meningkat ke Wanaprasta Asrama, apalagi sudah menjadi Sanyasin/ Bhiksuka. Khusus mengenai wanita, demikian dianggap berbahaya’ bagi kedua Asrama itu, misalnya seperti apa yang diuraikan dalam pasal 80, 81,82, 83, 84, 85, 86, 87, dst. Dalam Kitab Sarasamuccaya ada beberapa sloka yang disampaikan dengan memperlakukan wanita secara tidak adil. ContohnyaSloka 424na stribhyah kincidanyadvai papiyo bhuvi vidyate,striyo mulamanarthanam manasapi ca sekian banyak yang dirindukan, tidak ada yang menyamai wanita dalam hal membuat kesengsaraan; apalagi memperolehnya dengan cara yang jahat; karenanya singkirilah wanita itu, meskipun hanya di angan-angan, hendaklah ditinggalkan saja”.Sloka 438prasvedamaladig dhena vahata mutrasonitam,vranena vivrtenaiva sarvamandhikrtam jagatArtinya“Ditengah-tengah kulit sebesar jejak kaki kijang, terdapatlah luka yang menganga yang tidak pernah sembuh, yang menjadi salura jalan air seni dan darah, penuh berisi keringat dan segala macam kotoran; itulah yang membuat orang bingung di dunia ini, kegila-gilaan, buta dan tuli karenanya”.Sedangkan untuk mereka yang akan menuju ke Grhasta Asrama, atau yang sudah berada di Grhasta Asrama, dalam memandang/ menilai seorang wanita, pedomannya adalah Manawa Dharmasastra Buku ke-3 Tritiyo dhayah mulai pasal 4 dst. Terutama pasal 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, di mana dinyatakan betapa mulia dan pentingnya peranan seorang wanita sebagai Ibu Rumah Tangga. Contoh sloka Manawa DharmasastraSloka 56 “Yatra naryastu pujyanteRamante tatra dewata,Yatraitastu na pujianteSarwastalah kriyah”Artinya“Dimana wanita dihormati, disanalah para dewa-dewa merasa senang, tetapi dimana mereka tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang berpahala”.Sloka 57”Cosanthi jamayo yatrahWinacyatyacu tatkulam,Na cocanti tu yatraitaWardhate taddhi sarwadaArtinya”Diamana warga wanita hidup dalam kesedihan keluarga itu cepat akan hancur, tetapi diamana wanita tidak menderita keluarga itu kan selalu bahagia”.Oleh karena itu dalam proses belajar Agama, sebaiknya meminta tuntunan seorang guru yang mampu memberikan bahan-bahan pelajaran apa yang patut ditekuni, sesuai dengan tahapan kehidupan Catur Asrama. Selain itu juga guru bisa memberikan tuntunan sedemikian rupa sehingga murid sisya mencapai tingkat kesucian spiritual setahap demi setahap, dalam artian ada keteraturan proses, misalnya tidak melompat ke hal yang dalam sebelum mengetahui dasar-dasarnya basic ground. Misalnya untuk belajar Yoga, seorang sisya harus berdisiplin terlebih dahulu antara lain dalam hal-hal yang disebut Yama-brata’ dan Niyama-brata’. Tentu saja dalam hal ini faktor usia dan kematangan’ serta kedewasaan perilaku merupakan unsur Sarasamuccaya yang seluruhnya sebanyak 511 sloka, juga mengandung nilai-nilai yang universal, seperti apa itu manusia, semua manusia setara, mengapa ia ada di dunia, kemana tujuannya dan bagaimana seharusnya ia menjalankan hidupnya. Sebagai satu kesatuan pesan yang dibawa oleh kitab Sarasamuccaya, tidaklah mungkin didalamnya itu ada pesan-pesan yang kontradiktif satu dengan yang lainnya. Misalnya antara nilai-nilai universal dengan nilai-nilai Penggunaan Bahasa Indonesia Dalam Kitab SarasamuccayaKitab ini relatif unik karena menggunakan 2 bahasa bilingualyaitu bahasa Sansekerta untuk ayat utama dan bahasa Kawi Jawa Kuno untuk terjemahannya. Penggunaan bahasa Jawa pada bagian terjemahannya ini memunculkan dugaan bahwa kitab ini dibuat di diterjemahkannya bahasa Sanskerta ini kedalam bahasa Kawi, sehingga lebih memudahkan dalam memaknai Kitab ini setelah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia dalam memahami Sarasamuccaya sangat berperan penting dalam mempelajari kitab-kitab beberapa Kosa-kata dalam kitab Sarasamuccaya yang dipakai dalam bahasa Indoneia dikehidupan sehari-hari. Namun beberapa ada yang mengalami perubuhan tulisan maupun bunyi. Berikut ini beberapa kosa kata yang ada pada kitab Sarasamuccaya yang digunakan dalam bahasa Indonesia aatmaa = atmabhaagya = bahagiabhaarata = baratabhakti = baktichintaa = cintadharma = darmadoshhaah = dosajiiva = jiwa kshaatram = ksatriamanushhya = manusianaraka = nerakanishchaya = niscayapujya = pujaputrah = putraraajaa = rajashuchi = suci Sebelumnya kitab Sarasamuccaya hanya diterjemahkan dalam bahasa Jawa Kuno, akan tetapi tidak ditemukan siapa penterjemahnya dari bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Jawa Kuno, sehingga dengan diterjemahkannya kedalam bahasa Indonesia oleh Nyoman Kadjeng dkk, menjadi semakin mudah untuk memahami sastra dari Sarasamuccaya IIIKESIMPULAN DAN Kesimpulan Kitab Sarasamuccaya termasuk dalam kelompok Weda Smerti yang merupakan kitab suci otoritas kedua yang boleh diinterpretasi ulang bila ternyata nilai-nilai yang disampaikan ada yang merasa diperlakukan tidak adil. Kitab Sarasamuccaya seluruhnya sebanyak 511 sloka, mengandung nilai-nilai yang universal, seperti apa itu manusia, semua manusia setara, mengapa ia ada di dunia, kemana tujuannya, bagaimana seharusnya ia menjalankan hidupnya. Sebagai satu kesatuan pesan yang dibawa oleh kitab Sarasamuccaya, tidaklah mungkin didalamnya itu ada pesan-pesan yang kontradiktif satu dengan yang lainnya. Misalnya antara nilai-nilai universal dengan nilai-nilai partikular. Ternyata ada 19 sloka yang secara tekstual merupakan nilai-nilai yang partikular, yang bertentangan dengan sebagian besar nilai-nilai universal yang terkandung di dalam kitab itu. Sesuai dengan pemahaman baru tentang “perempuan” dalam sloka di atas ternyata tidak benar-benar merupakan sloka-sloka yang bertentangan dengan nilai-nilai universal Sarasamuccaya yang lainnya. Tujuan hidup manusia menurut Hindu baik laki maupun perempuan adalah berpeluang sama untuk mencapai kesejahteraan duniawi Jagat Hita dan Pembebasan Moksa. Nafsu birahi menyebabkan keterikatan yang sangat kuat pada setiap orang. Hal ini dapat kita lihat maraknya pornografi dan pornoaksi serta porno media sebagai tontonan yang banyak menarik manusia modern dewasa ini, yang dalam bentuknya yang kuno dapat kita lihat dalam sastra Kama Sutra. Beberapa bahasa Sanskerta dalam kitab Sarasamuccaya yang juga dipakai dalam bahasa Indonesia. Namun karena terjadi perubahan zaman secara terus-menerus sehingga ada yang mengalami perubahan bunyi maupun Saran Sloka-sloka Sarasamuccaya yang berbicara mengenai perempuan ini, harus diinterpretasi ulang yang secara aktif melibatkan Wanita Hindu Indonesia WHDI dan tentu saja harus memberikan kontribusi pemikiran agar tidak lagi diskriminatif, meminggirkan perempuan dan bersifat represif. WHDI juga jangan lupa tetap aktif pula secara internal merealisasikan program penafsiran ulang sastra-sastra Hindu yang secara tekstual masih sangat patriarkhis, sehingga tidak malu-malu lagi kita perkenalkan kepada umat lainnya dan generasi muda Hindu. Kemunculan teknologi yang serba modern ini banyak yang menyalah artikan beberapa sloka Sarasamuccaya oleh kepercayaan non-Hindu di beberapa situs website dengan maksud dan tujuan tertentu. Hendaklah sebagai umat Hindu harus kritis dan tanggap terhadap permasalahan yang ada dan tidak mudah terpengaruh oleh arti-arti Veda yang tidak PUSTAKAAnynomous. 2012. Sarasamusccaya oleh Bhagawan Wararuci Online. Diakses pada tanggal 02 Januari 2014Anynomous. 2012. Sarasamuscaya dan Manawa Dharmasastra Online. Diakses pada tanggal 02 Januari 2014Satria. 2012. Penafsiran Ulang Sloka Tentang Perempuan Dalam Kitab Sarasamuccaya Online. Diakses pada tanggal 02 Januari 2014Pudja, Gede. 1979. Sarasamuccaya. Proyek Pembinaan Sarana Keagamaan Hindu JakartaArivia, Gadis. 2003. Filsafat Berspektif Feminis. Yayasan Jurnal Perempuan Anne M. 2002. Pemperkenalkan Teologi Feminis. Ledalero, Maumere Dkk. 2005. Sarasamuccaya. Paramita Luh Ketut. 2003. Perempuan Bali Kini. BP Made. 1998. Citra Wanita dalam Kakawin Ramayana. Paramita Surabaya. A. kitab Sarasamuscaya adalah Bhagawana. Wararucic. Waisampayana11. Sujud bhakti kchadapan Sanghyang Widhi dengan tulus iklas disebut ........ Margac. Karma bersatu dengan Sanghyang Widhi dengan cara menuntut dan mengabdikan ilmupengetahuan margab. Karma margad. Raja agama Hindu untuk mencapai kesejahteraan umat manusia disebut ...a. Adimoksa​ Jawaban kitab Sarasamuscaya adalah Bhagawana. Wararuci11. Sujud bhakti kchadapan Sanghyang Widhi dengan tulus iklas disebut ....... bersatu dengan Sanghyang Widhi dengan cara menuntut dan mengabdikan ilmupengetahuan agama Hindu untuk mencapai kesejahteraan umat manusia disebut ... bermanfaat